Postingan

Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu

“ Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya… ” (SMS dari seorang sahabat) Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup  wanita . Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”  (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh ...

Perhiasan Dunia Itu Sedikit dan Akan Hilang

Gambar
Sebanyak apapun perhiasan dunia, tetap saja sedikit jika dibandingkan dengan kenikmatan yang Allah  Ta’ala  siapkan di akhirat bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. Allah  Ta’ala  berfirman, فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا  قَلِيلٌ “Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”  (Qs. At Taubah: 38) yakni, sekiranya perhiasan dunia itu dibandingkan dengan kenikmatan akhirat, tentu sangat sedikit. ( Tafsir Al Manar , jilid 10 hlm. 495) Jika perhiasan dunia itu kecil dan punah (fana), maka nikmat yang ada di sisi Allah itu banyak dan kekal, Allah menyiapkannya bagi hamba yang bertaqwa, dan itu lebih baik daripada perhiasan dunia. Allah  Ta’ala  berfirman, قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلا تُظْلَمُونَ  فَتِيلا  “Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang be...

Mengajarkan Bahasa Inggris di Usia Dini?

Gambar
Fatwa Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin Pertanyaan: Apa resiko seorang anak kecil belajar dua bahasa sekaligus yaitu bahasa arab untuk menghafal Al Qur’an dan bahasa Inggris. Anak tersebut memiliki kemampuan yang baik berinteraksi dengan kedua bahasa diatas dengantetap berpegang teguh dengan akhlak Islam? Pertanyaan lainnya, Fadhilatusy Syaikh, saya menyekolahkan anak laki-laki saya ke TK yang mengajarkan bahasa asing (TK Internasional). Akan tetapi ada sekolah terlebih TK negeri yang berlawanan sistem pengajarannya dengan TK ini. Lulusan dari TK negeri disiapkan untuk memasuki jenjang pendidikan dasar selanjutnya. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada anak yang tidak sekolah TK. Apakah ini karena nasehat Anda dengan mngeluarkan sebuah fatwa ataukah semata-mata ijtihad Anda sendiri? Semoga Allah memberi pahala kepada Anda. Jawab : Pertama , saya tidak tahu apa perbedaan fatwa dengan nasehat. Seorang penasehat, lebih dari sebatas mufti. Seorang mufti menjelaskan hukum...

Nasihat Menjelang Tidur

Gambar
Sudah umum diketahui, jelang tidur merupakan momen tepat bagi orang tua untuk lebih dekat dengan anak. Dalam hal ini, anak yang belum mencapai usia baligh. Pada usia tersebut, biasanya anak-anak suka dibacakan cerita menjelang tidur. Menjelang tidur, kisah penggugah jiwa bisa divariasikan dengan jenis narasi lain, misalnya akidah, adab, bahkan akhlak. Orang tua bisa mengutip satu-dua ayat Al-Quran. يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Duhai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”  (QS. Luqman:13) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong). Jangan pula kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”  (QS. Luqman:18) يَا أَيُّهَ...

Anakku, Ingatlah Selalu Pesan Nabimu…

Gambar
Wahai anakku… Ibumu hanyalah manusia  biasa yang tak memiliki apa-apa kecuali secuil ilmu yang diperoleh dari baca-baca buku, Mendengarkan ceramah ustadz saat pengajian ibu-ibu, Membaca artikel ilmiyyah yang bermanfaat bagi diri ibumu. Ibumu bukanlah seorang ustadzah yang berilmu, Bukan pula hafidzah yang hafal berlembar-lembar juz Al -Qur’an yang Allah turunkan sebagai wahyu. Namun begitu wahai anakku… Itu semua tidaklah menghalangi ibumu terus berusaha sekuat tenaga mendidikmu agar selalu diatas cahaya petunjuk Rabbmu. Agar engkau kelak menjadi manusia yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam  saat kebanyakan hati manusia membatu… Tak lagi peduli mana halal mana haram …. Mana perintah mana larangan… Yang ada hanya satu yaitu tunduk dan patuh kepada hawa nafsu. Untuk itu wahai anakku… Hiasilah hari-harimu dengan pesan Nabimu agar terkumpul pahala padamu pahala menaati Sunnah Nabawiyah yang mulia dan pahala menaat...

Bahaya Belajar Tanpa Bimbingan Guru

Berikut ini silsilah sanad bagi yang ngajinya dari internet, hasilnya bingung bahkan stres, depresi dan tersesat..! Ngaji itu kepada guru secara langsung, yang gurunya itu juga berguru kepada guru secara langsung, demikian seterusnya sampai bersambung sanadnya kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam.. Guru itu ibarat tangga.. Naik ke tingkatan berikutnya itu butuh tangga, tanpa tangga bagaimana bisa naik dan sampai..?! Belajar otodidak dari buku atau internet itu akan menyebabkan lebih banyak salahnya daripada benarnya.. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang gurunya adalah buku maka gurunya adalah setan..! Mari ngaji kitab, duduk di majelis ilmu, insya Allah ilmunya barokah dan hidup tenang serta mati husnul khotimah masuk Jannah, aamiin.. Permalink  | Sumber tulisan:  Ustadz Abdullah Hadrami http://www.situssunnah.com/

Kenapa Kita Tetap Ngotot padahal Kita Salah?

Gambar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta’ala berkata, “Kadang manusia sebenarnya tahu bahwa orang lain benar (sedangkan dia salah). Meski demikian, dia bersikukuh dengan pendapatnya karena dia dengki terhadap pihak yang benar. Mungkin juga, dia bersikukuh (meski salah) karena dia ingin berada di posisi yang lebih terpandang. Mungkin juga, dia semata mengikuti hawa nafsunya, kemudian nafsu itu mendorongnya untuk berpaling dari kebenaran dan dengan segala cara dia menolak penjelasan pihak lain. Padahal hati nuraninya tahu bahwa orang lain yang benar (sedangkan dialah yang salah). Sumber: Majmu’ Fatawa, 7:191. Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com Artikel WanitaSalihah.Com *** قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله تعالى-: “فإن الإنسان قد يعرف أن الحق مع غيره ومع هذا يجحد ذلك لحسده إياه، أو لطلب علوه عليه، أو لهوى النفس، ويحمله ذلك الهوى على أن يعتدي عليه ويرد ما يقول بكل طريق وهو في قلبه يعلم أن الحق معه” مجموع الفتاوى | ١٩١/٧ Sumber :...